Rabu, 18 Januari 2017

Tanpa Basabasi! Kapolda Jawa Barat Nyatakan Siap Bubarkan Ormas Radikal FPI

Pustakanews.com - Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Charliyan mengundang seluruh masyarakat khususnya warga Jawa Barat untuk berkumpul di Lapangan Gazibu kota Bandung, Jawa Barat pada hari Kamis 19 Januari 2017 terkait petisi untuk membubarkan FPI.


"Mari bersama sama bersatu untuk membubarkan ormas penista Pancasila, penista Budaya, pemecah persatuan NKRI," kata Anton Charliyan di Mapolda Jawa Barat, hari ini, seperti dikutip Humas Polda Jawa Barat.

FPI melaporkan Anton Charliyan ke Mabes Polri karena dituding bertanggung jawab atas bentrokan massa FPI dengan GMBI di depan Mapolda Jabar 12 Januari 2017, karena Anton merupakan pembina GMBI. Bentrokan itu terjadi usai Polda Jabar memeriksa Habib Rizieq dalam kasus penistaan Pancasila.

Anton Charliyan menyebar undangan terbuka tersebut bertajuk “Sawala Apel Akbar 191-999 masyarakat Jabar Bersatu".

Undangan terbuka tersebut, kata Anton ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat Jawa Barat lebih khusus kepada para Ulama, Pesantren, Masyarakat Adat, Tokoh Masyarakat, LSM, Ormas, yang berjiwa Nasionalis, Cinta Jawa Barat, cinta agama dan cinta kedamaian.

Selain menyebarkan undangan kepada seluruh pemuka agama, tokoh masyarakat, seluruh elemen masyarakat yang terkait, undangan tersebut pun disebarkan melalui akun Facebook milik anggota kepolisian jajaran polda Jawa Barat.

Nggak Mau Kalah dari Samsung, Nokia Juga Siap Rilis Smartphone Layar Lipat

Pustakanews.com - Persaingan dalam dunia smartphone semakin sengit. Seperti yang kita ketahui, sampai saat ini Samsung masih memimpin pasar smartphone Android. Bahkan, inovasi Samsung yang terdengar belakangan ini adalah menciptakan sebuah ponsel dengan layar lipat.


Namun, sebuah brand legendaris bernama Nokia tampaknya tidak mau kalah dari Samsung. Sebab, terdengar kabar kalau Nokia juga tengah menyiapkan ponsel pintar layar lipat loh. Benarkah itu?

Nggak Mau Kalah dari Samsung, Nokia Siap Rilis Smartphone Layar Lipat
nokia layar lipat


Belum lama ini, Nokia sudah berhasil merilis sebuah smartphone Android bernama Nokia 6 yang masuk ke dalam jajaran smartphone mid-range. Untuk kelas high-end, sudah terdengar kabar tentang Nokia 8. Namun, ada bocoran juga kalau paten lainnya dari Nokia ialah smartphone layar lipat.

Dikabarkan, smartphone ini akan memiliki layar 6 inci yang sangat fleksibel sehingga bisa dilipat atau ditekuk sekalipun. Di sisi lain, teknologi ini belum tentu dikembangkan juga. Sebab, hal ini bukan kali pertama menjadi paten yang diterima, tetapi kemudian terlupakan.

nokia layar lipat 2

Tampaknya, jika memang benar Nokia mampu mengembangkan smartphone layar lipat ini, maka dijamin tahun 2017 ini akan menjadi pengembangan gila-gilaan untuk ponsel jenis seperti itu. Siap-siap ganti smartphone ya guys!

Apa tanggapanmu soal inovasi smartphone ini? Share pendapatmu ya! Dan, jangan lupa untuk membaca artikel seputar Smartphone dan artikel menarik lainnya dari Jofinno Herian. (jt)

Selasa, 17 Januari 2017

Rezeki Seret? 10 Dosa Inilah Penyebab Terhalangnya Rezeki Anda

Firman Allah SWT, "Dan tak ada satupun makhluk melata di bumi kecuali Allah-lah yang memberikan rezekinya."(QS. Hud: 11)


Namun ada kalanya seorang muslim seret rezekinya. Misalnya bertahun-tahun tidak mendapat penghasilan padahal telah berusaha. Mencari pekerjaan nggak dapat-dapat. Buka usaha selalu rugi.

Bisa jadi itu ujian, namun jika pernah melakukan salah satu dari 10 dosa ini, menurut Al-Ustadz Yusuf Mansur itu adalah hukuman yang harus bertaubat dulu kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Berikut ini adalah 10 dosa yang menghalangi rezeki:

- Syirik kepada Allah, menyekutukan Allah
- Meninggalkan atau melalaikan salat
- Berbuat zina
- Durhaka kepada orangtua
- Memakan uang haram
- Berjudi
- Minum khamr atau minuman keras
- Memutuskan silaturahim
- Suka ghibah
- Kikir alias pelit

Jika 10 dosa itu tidak pernah dilakukan tetapi rezekinya terkesan sulit alias seret, insya Allah itu adalah ujian dari Allah sebagaimana anak yang tak pernah melakukan kesalahan ia mengikuti ujian untuk naik kelas. Dari kelas 4 ke kelas 5, dari kelas 5 ke kelas 6, dari kelas 6 lulus SD menuju SMP.

Jika ujian, maka solusinya hanya sabar. Namun jika pernah melakukan salah satu dari 10 dosa penghalang rezeki tersebut, langkah pertama adalah bertaubat. Tobat nasuha. Tobat sungguh-sungguh terlebih dahulu, menyesal dan tidak akan mengulanginya. Setelah itu baru sabar. Insya Allah dengan demikian rezeki kembali lancar. (mozaik.inilah)

CSIS: Tak Perlu Tunggu Agus-Sylvi Kalah, Citra SBY Memang Sudah Merosot di Mata Publik

Sebenarnya dengan mencalonkan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dalam Pilkada DKI Jakarta, citra Ketua Umum Demokrat dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin merosot di mata publik.


"Jangankan dimata rakyat, dimata koleganya pun dianggap terlalu tega merampas karier cemerlang anaknya. Mencalonkan Agus dan Sylvi citra SBY semakin merosot." ujar Peneliti Senior Center of Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kepada Tribunnews.com.

Jadi tidak perlu menilai citra SBY dengan menunggu kemenagan atau kekalahan Agus-Sylvi dalam Pilkada DKI Jakarta.

"Jauh sebelum itu sudah merosot. Alasan lain, karena membangun kekuasaan hanya melulu citra sudah lewat di negeri ini," katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa citra SBY telah pudar setelah terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden.

Karena dia menilai pasangan Jokowi-JK merupakan antiresa dari politik pencitraan demi penciraan itu sendiri.

"Jokowi-JK justru mencoba memutar balikkan jurus penciraan SBY. Jokowi dan JK justru citra hanya merupakan akibat dari fakta kebijakan yang tidak populis tapi dapat mengangkat kredibilitas mereka," ujarnya. (tribunnews.com)

Politikus PDIP Di Depan Habib Rizieq: Jangan Cari2 Kambing Hitam, Pidato Megawati Tidak Menghina Umat Islam

Anggota Komisi III DPR Dwi Ria Latifa menilai pidato yang disampaikan Megawati Soekarnoputri saat HUT ke-44 PDIP tidak menghina umat Islam. Hal itu disampaikan Dwi kepada Habib Rizieq di ruang rapat Komisi III DPR, Gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/1/2017).


Dwi mennyampaikan hal itu bukan karena dirinya berstatus Politikus PDI Perjuangan.

"Ketika Pak Habib sampaikan tadi tentang pidato Bu Megawati, saya rasa tentu kita harus cermati betul apa isi pidato beliau. Saya datang, saya dengar dan tidak ada satu kata pun beliau menghina apakah Habib, apakah FPI, apakah umat Islam, atau siapapun, tapi bicara tentang suatu ideologi yang harus kita cermati yang nantinya akan sedikit menjadi peringatan buat bangsa kita karena kita tetap jaga NKRI ini, Bhineka Tunggal Ika ini," kata Dwi Ria Latifah.

Dwi mengaku belum pernah bertemu Habib Rizieq dan hanya melihat melalui video.

"Saya juga senang hari ini, Alhamdulillah kebetulan memang background saya sebagai pengacara yang baru 26 atau 27 tahun. Dan bersyukur juga selalu menjalankan suatu proses hukum," kata Dwi.

Dwi mengaku senang Habib Rizieq menjaga NKRI serta Bhineka Tunggal Ika yang dijaga dari Sabang-Marauke.

"Tidak ada kekerasan, tidak ada anarkisme dalam setiap tindakan, saya senang mendengarnya, mudah-mudahan itu tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari," kata Dwi.

Dwi mengaku memiliki kesamaan pendapat dengan Rizieq yakni menghormati proses hukum yang berjalan.

Apalagi, Rizieq sudah datang ke Polda Jabar untuk menjalani pemeriksaan.

Menurut Dwi, proses hukum akan terlihat transparan saat persidangan di pengadilan.

"Masyarakat yang akan menilai apakah yang habib katakan tadi panjang lebar bisa dibuktikan bahwa habib tidak bersalah, apakah yangg dilakukan oleh Polda atau kepolisian melakukan pelanggaran nanti ada prosesnya ketika di kejaksaan diterima atau tidak perkara ini, apakah dikembalikan, biarkan proses hukum itu berjalan," kata Dwi.

Dwi juga bertanya kepada Habin Rizieq terkait ucapannya mengenai Pancasila.
Apalagi, Dwi mengaku sebagai pengagum Soekarno.

"Hari ini saya ingin tanya pada pak Habib Rizieq, ‎apa yang Pak Habib Rizieq maksudkan waktu itu bahwa Pancasila Bung Karno itu letaknya di pantat. Pada saat itu saya merasa darah saya menggelegak, saya diajarkan oleh orang tua saya tak boleh berkata yang seperti itu, saya juga diajarkan oleh ulama- termasuk saya ingin saya yakin habib juga akan mengajarkan saya dan kami semua untuk berbicara dengan bahasa-bahasa yang santun," kata Dwi.

"Tapi s‎aya terkaget-kaget ‎waktu itu, apa maksudnya Pancasila Bung Karno itu letaknya di pantat," tambah Dwi.

Sementara, Habib Rizieq memberikan jawaban terkait pidato Megawati Soekarnoputri.
Rizieq mengaku sudah 10 kali menonton ulang tayangan pidato tersebut.

"Nah setelah itu saya menyimpulkan itu mengandung pensitaan kepada agama, dan penistaan kepada suku bangsa. Tapi ini kan analisa saya, benar atau tidak bisa kita buktikan di pengadilan nanti. Dan mudah-mudahan ibu PDIP tidak mendorong saya melaporkan Ibu Megawati. Karena kalau minta pembuktian harus di pengadilan, tadi saya sudah sampaikan. Saya bukan tipe orang saling lapor. Tapi kalau saya didorong untuk lapor apa boleh buat," kata Rizieq.

Sedangkan mengenai pelaporan Sukmawati Soekarnoputri, Rizieq mengatakan video yang ditayangkan penyidik hanya berdurasi 2 menit.

Padahal, kata Rizieq, minimal ia berceramah selama 30 menit.

"Kalau dipotong selama 2 menit, tentu akan sulit mengambil kesimpulan. Maka itu saya minta, kalau ini dianggap ini sebagai jawaban, saya minta Ibu PDIP mencari video-nya yang utuh, dan mendengar ceramah dari awal sampai akhir agar tidak gagal paham," ujar Rizieq.

"Dan saya sepakat dengan ibu untuk membuktikan itu di pengadilan. Apakah ibu Mega menghina agama dan suku bangsa, kita bisa buktikan di pengadilan," tambahnya. (trbnnws)

Hakim Merasa Ada yang Aneh dengan Saksi di Sidang Ahok. ini Penyebabnya...

Laporan Polisi milik Wilyudin Abdul Rasyid Dhani dipertanyakan. Laporan dibuat sebelum pidato terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu 27 September 2016.


Pada Laporan Polisi, tercantum tanggal 6 September 2016. Artinya, laporan dibuat sebelum Ahok melangsungkan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu 27 September 2016.

Polisi pembuat laporan, yakni Briptu Ahmad Hamdani dihadirkan saat persidangan keenam yang berlangsung di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/1).
Menurut keterangan Briptu Ahmad Hamdani, Wiliyudin datang pada 7 Oktober 2016, bersama empat rekanannya.

"Pelapor datang 4 orang, 1 orang yang melapor tanggal 7 Oktober 2016 pukul 16.30 WIB," ujar Ahmad saat bersaksi, Selasa (17/1/2017).

Hakim menanyakan kekeliruan waktu kejadian tersebut. Ahmad menulis tanggal kejadian sesuai dengan kejadian pelapor menonton video yang beredar di WhatsApp.

"Saya menuliskan tanggal saat pelapor membuka video di rumahnya sendiri di Tegallega, Bogor bukan waktu kejadian penodaan agamanya," ujar Ahmad.

Hakim mengatakan harusnya Polisi menuliskan tempat kejadian terlapor menoda agama, bukan saat saksi pelapor melihat video WhatsApp. Namun Ahmad menampik hal tersebut dengan membalikkannya kepada pelapor.

"Sebelum saya tandatangan saya minta pelapor untuk baca kembali. Dan enggak ada penolakan dari pelapor," ujar Ahmad.

Saat persidangan kelima pekan lalu, Ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto memutuskan menunda kesaksian dari Wilyudin Abdul Rasyid Dhani.

Keputusan itu, diambil setelah tim kuasa hukum Ahok mempertanyakan laporan ke pihak kepolisian di Bogor.

Dalam laporan yang ditandatanganinya, tercantum tanggal 7 September 2016.

Artinya, laporan itu dibuat tiga minggu sebelum Ahok berpidato, dan menyinggung Surat Al Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 lalu.

Dwiarso menjelaskan, adanya kemungkinan kesalahan ketik dari pihak kepolisian. Namun, hal itu, tak menutup jalannya persidangan untuk mencari kebenaran materiil.

"Kesalahan ketik tidak menutup mencari kebenaran materiil," imbuh Dwiarso.

Hari ini, jaksa penuntut umum menghadirkan dua polisi, yakni Brigadir Polisi Kepala Agung Hermawan, dan Briptu Ahmad Hamdani yang membuat laporan Wiliyudin. (trbnnws)

Dua dari enam Saksi Sidang ke enam Ahok Tidak Hadir Tanpa Keterangan

Pustakanews.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus dugaan penistaan agama akan menghadirkan enam saksi pelapor dalam sidang ke enam dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama. Namun ternyata dua di antaranya mangkir dalam sidang pada Selasa (17/1).


Salah satu penasihat hukum Basuki atau akrab disapa Ahok, Rian Ernest mengatakan, tidak semua saksi yang dihadirkan tiba dipersidangan. Dia mengungkapkan, Muhammad Asroi Saputra dan Iman Sudirman tidak dapat hadir.

"Saksi tiga dan empat tidak datang sidang," katanya di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (17/1).

Dalam sidang ke enam ini, seluruh penasihat hukum telah tiba dan duduk dengan tenang di ruang sidang. Bahkan, Ahok juga telah berada di tengah-tengah peserta persidangan. Dan saksi yang dihadirkan pertama adalah Brigadir Polisi Kepala Agung Hermawan.

"Penasihat hukum sudah siap di kursi semua. Bripka Agung Hermawan dari Polres Bogor Banit SPKT (menerima laporan masyarakat) dihadirkan (sebagai saksi pertama)," tutup Rian.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara hari ini, Selasa 17 Januari 2017, kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan.

Gubernur nonaktif DKI Jakarta itu akan menjalani sidang ke enam dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sama dengan agenda sidang kelima, Selasa pekan lalu. Sidang dimulai pukul 09.00 WIB pagi ini.

Dalam sidang ini, ada sebanyak 6 orang yang akan dihadirkan, termasuk dua anggota kepolisian Polresta Bogor yang menerima dan menandatangani laporan pertama kasus tersebut sebelum masuk ke persidangan.

Willyudin Dhani yang pada sidang sebelumnya belum tuntas memberikan kesaksiannya karena waktu yang sudah larut malam, pada hari ini juga akan hadir untuk meneruskan kesaksiannya.

Berdasarkan data yang dihimpun, keenam orang yang akan dihadirkan dalam persidangan lanjutan perkara dugaan penistaan agama oleh Ahok hari ini, yaitu:

1.Willyudin Dhani
2.H.Ibnu Baskoro
3.Muhammad Asroi Saputra
4.Iman Sudirman
5.Brigadir Polisi Kepala Agung Hermawan
6.Briptu Ahmad Hamdani

Saat ini Ahok berstatus sebagai terdakwa perkara dugaan penistaan agama. Pernyataannya terkait Surah Al-Maidah Ayat 51 membawanya ke meja hijau. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Ahok dengan Pasal 156 a KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman penjara paling lama lima tahun. (mrdk)