Kamis, 05 Januari 2017

Kamu Pasti iri. Pengangguran di Finlandia Digaji Rp 7,8 Juta Perbulan. Ini Alasan Pemerintahnya!



Pustakanews.com - Finlandis, salah satu negara Skandinavia yang juga anggota Uni Eropa ini selalu membuat kita tercengang dengan kemajuan peradaban dan tingkat kesejahteraan warganya yang di atas rata-rata. Masih ingat kan tentang gaya sekolah anak Finlandia yang terlihat selow dengan 5 jam belajar tanpa PR dan ujian nasional, tapi pelajarnya pintar-pintar?


Kali ini Finlandia kembali membuat kebijakan yang lumayan ekstrem dan dijamin bikin iri masyarakat seluruh dunia. Seperti yang dilansir dari NYTimes, Finlandia akan menjadi negara pertama di Eropa yang menggaji warganya yang penggangguran. Yup, kamu tidak salah membaca. Negara ini bakal menggaji warganya yang tidak memiliki pekerjaan atau sumber penghasilan. Kenapa? Yang jelas biar 8,1% warganya yang tidak memiliki mata pencaharian bisa hidup dengan layak. Haduh di Indonesia aja gajian masih sering telat sampai karyawan harus utang sana-sini untuk menyambung hidup, di Finlandia yang tak punya pekerjaan pun tidak perlu pusing masalah uang.

Gaji 7,8 juta plus tunjangan setiap bulan tanpa perlu lapor untuk apa saja, mungkin kamu iri setengah mati dengan hak baru warga Finlandia ini


Untuk mendapatkan gaji 7,8 juta Rupiah per bulan di Jakarta atau Indonesia, mungkin kamu harus punya pengalaman minimal 2 tahun dulu. Di Finlandia warga negara berusia 25 hingga 58 tahun akan mendapat gaji pokok bulanan sebesar 560 Euro atau 7,8 juta Rupiah, tanpa syarat apapun. Serunya lagi, tak perlu dilaporkan gaji 7,8 juta Rupiah itu dipergunakan untuk apa saja. Tapi sebelum kamu bertekad pindah ke Finlandia, pikirkan mahalnya biaya hidup dimana sebenarnya angka 7,8 juta Rupiah itu jumlah yang relatif kecil. Dibandingkan Jakarta, biaya hidup di Finlandia 3 kali lipat besarnya.

Kebijakan ini adalah upaya pemerintah untuk mengatasi rapor merah di bidang kemiskinan. Hmm, memangnya Finlandia termasuk negara miskin ya?


Program ini adalah inisiasi dari pemerintahan Perdana Menteri, Juha Sipila untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Kamu mungkin bertanya-tanya, apa iya Finlandia itu termasuk negara miskin? Padahal pendidikan di sana terkenal murah dan gratis.

Well dibandingkan 20 tahun yang lalu, angka kemiskinan di Finlandia memang mengalami kenaikan. Gap antara orang kaya dan orang miskin semakin membesar. Jumlah pengangguran pun meningkat. Pada November 2016, jumlah pengangguran tercata sebesar 213.000 orang atau 8.1% dari keseluruhan penduduk. Itu adalah kondisi stagnan yang sama dari tahun sebelumnya. Kegagalan memperbaiki atau menurunkan jumlah pengangguran inilah yang jadi pendorong terobosan ekstrem untuk menggaji mereka yang tak punya mata pencaharian.

Program ini masih berupa percobaan selama dua tahun. Selain mengatasi kemiskinan, pemerintah juga ingin tahu ‘tabiat’ warga negaranya


Dimulai sejak 1 Januari 2017 kemarin, rencananya program ini akan diuji coba selama 2 tahun. Sebanyak 2000 pengangguran yang dipilih secara random akan diberi gaji pokok bulanan. Gaji pokok ini tidak akan dicabut bila yang bersangkutan kelak mempunyai pekerjaan. Menurut Olli Kangas, perwakilan dari Kela yaitu perusahaan yang bertanggung jawab atas jaminan sosial Finlandia, ide dasar dari program ini adalah untuk menghilangkan rasa ‘patah semangat’ di kalangan pengangguran.

Dengan begini, diharapkan para pengangguran akan terpacu untuk memiliki pendapatan tambahan dengan melakukan part-time job yang selama ini ditakuti karena gajinya kecil. Kangas menyadari bahwa program ini bisa saja justru membuat orang semakin malas. Karena itu dua tahun rencana percobaan, pemerintah akan melihat seperti apa program ini berjalan.

“Akan sangat menarik untuk melihat bagaimana orang bersikap,” Ujar Kanga. “Apakah ini akan membuat mereka lebih banyak pengalaman dengan berbagai macam pekerjaan? Ataukah, sebagaimana banyak kritik dilayangkan, justru membuat mereka lebih malas karena pengetahuan bahwa emreka akan mendapat gaji pokok tanpa melakukan apa-apa.”

Finlandia adalah negara yang berpenduduk 5,5 juta dengan penghasilan sektor privat sebesar 3.500 Euro setiap bulan. Meskipun tujuan dari program ini sangat bagus dan membuat kita gigit jari iri, namun rasanya sulit untuk diterapkan di Indonesia yang penduduknya lebih dari 255 juta jiwa dan jumlah pengangguran di tahun 2016 mencapai 7.02 juta jiwa. Disamping keterbatasan dana dan tumpukan utang yang dimiliki pemerintah kita, takutnya jika diterapkan di Indonesia justru mungkin bakalan ada gelombang resign besar-besaran nih. Siapa sih yang nggak suka gratisan? (hipw)