Politikus PDIP Di Depan Habib Rizieq: Jangan Cari2 Kambing Hitam, Pidato Megawati Tidak Menghina Umat Islam


Pustakanews.com - Anggota Komisi III DPR Dwi Ria Latifa menilai pidato yang disampaikan Megawati Soekarnoputri saat HUT ke-44 PDIP tidak menghina umat Islam. Hal itu disampaikan Dwi kepada Habib Rizieq di ruang rapat Komisi III DPR, Gedung DPR, Jakarta, Selasa (17/1/2017).


Dwi mennyampaikan hal itu bukan karena dirinya berstatus Politikus PDI Perjuangan.

"Ketika Pak Habib sampaikan tadi tentang pidato Bu Megawati, saya rasa tentu kita harus cermati betul apa isi pidato beliau. Saya datang, saya dengar dan tidak ada satu kata pun beliau menghina apakah Habib, apakah FPI, apakah umat Islam, atau siapapun, tapi bicara tentang suatu ideologi yang harus kita cermati yang nantinya akan sedikit menjadi peringatan buat bangsa kita karena kita tetap jaga NKRI ini, Bhineka Tunggal Ika ini," kata Dwi Ria Latifah.

Dwi mengaku belum pernah bertemu Habib Rizieq dan hanya melihat melalui video.

"Saya juga senang hari ini, Alhamdulillah kebetulan memang background saya sebagai pengacara yang baru 26 atau 27 tahun. Dan bersyukur juga selalu menjalankan suatu proses hukum," kata Dwi.

Dwi mengaku senang Habib Rizieq menjaga NKRI serta Bhineka Tunggal Ika yang dijaga dari Sabang-Marauke.

"Tidak ada kekerasan, tidak ada anarkisme dalam setiap tindakan, saya senang mendengarnya, mudah-mudahan itu tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari," kata Dwi.

Dwi mengaku memiliki kesamaan pendapat dengan Rizieq yakni menghormati proses hukum yang berjalan.

Apalagi, Rizieq sudah datang ke Polda Jabar untuk menjalani pemeriksaan.

Menurut Dwi, proses hukum akan terlihat transparan saat persidangan di pengadilan.

"Masyarakat yang akan menilai apakah yang habib katakan tadi panjang lebar bisa dibuktikan bahwa habib tidak bersalah, apakah yangg dilakukan oleh Polda atau kepolisian melakukan pelanggaran nanti ada prosesnya ketika di kejaksaan diterima atau tidak perkara ini, apakah dikembalikan, biarkan proses hukum itu berjalan," kata Dwi.

Dwi juga bertanya kepada Habin Rizieq terkait ucapannya mengenai Pancasila.
Apalagi, Dwi mengaku sebagai pengagum Soekarno.

"Hari ini saya ingin tanya pada pak Habib Rizieq, ‎apa yang Pak Habib Rizieq maksudkan waktu itu bahwa Pancasila Bung Karno itu letaknya di pantat. Pada saat itu saya merasa darah saya menggelegak, saya diajarkan oleh orang tua saya tak boleh berkata yang seperti itu, saya juga diajarkan oleh ulama- termasuk saya ingin saya yakin habib juga akan mengajarkan saya dan kami semua untuk berbicara dengan bahasa-bahasa yang santun," kata Dwi.

"Tapi s‎aya terkaget-kaget ‎waktu itu, apa maksudnya Pancasila Bung Karno itu letaknya di pantat," tambah Dwi.

Sementara, Habib Rizieq memberikan jawaban terkait pidato Megawati Soekarnoputri.
Rizieq mengaku sudah 10 kali menonton ulang tayangan pidato tersebut.

"Nah setelah itu saya menyimpulkan itu mengandung pensitaan kepada agama, dan penistaan kepada suku bangsa. Tapi ini kan analisa saya, benar atau tidak bisa kita buktikan di pengadilan nanti. Dan mudah-mudahan ibu PDIP tidak mendorong saya melaporkan Ibu Megawati. Karena kalau minta pembuktian harus di pengadilan, tadi saya sudah sampaikan. Saya bukan tipe orang saling lapor. Tapi kalau saya didorong untuk lapor apa boleh buat," kata Rizieq.

Sedangkan mengenai pelaporan Sukmawati Soekarnoputri, Rizieq mengatakan video yang ditayangkan penyidik hanya berdurasi 2 menit.

Padahal, kata Rizieq, minimal ia berceramah selama 30 menit.

"Kalau dipotong selama 2 menit, tentu akan sulit mengambil kesimpulan. Maka itu saya minta, kalau ini dianggap ini sebagai jawaban, saya minta Ibu PDIP mencari video-nya yang utuh, dan mendengar ceramah dari awal sampai akhir agar tidak gagal paham," ujar Rizieq.

"Dan saya sepakat dengan ibu untuk membuktikan itu di pengadilan. Apakah ibu Mega menghina agama dan suku bangsa, kita bisa buktikan di pengadilan," tambahnya. (trbnnws)

Subscribe to receive free email updates: